Selamat malam reader, saya balik lagi dengan sebuah postingan. kali ini saya akan memposting sebuah cerpen, cerpen ini sebenarnya tugas sekolah saya. namun saya mempunyai kenginginan buat mempostingnya. ga usah banyak basa basi deh, langsung aja nih penampakan nyaa
BIMBEL ASMARA
Cahaya rembulan tampil, menyinari bumi ditemani gemerlap
bintang-bintang di langit yang menghitam. Hembusan angin yang menusuk kulit,
membuat tubuh tak kuasa menahan kantuk dan menolak rayuan selimut.
“Uaaahhhh” , suara pemuda yang baru bangun dari tempat
tidurnya. Dilihatnya jarum pendek yang menunjukan angka 8 dan seketika mata
sayupnya menjadi segar dan ia berlari menuju kamar mandi. Yaa, dia sudah kesiangan. Dia ada
kuliah pagi ini tepatnya pukul 8.30, sebenarnya belum terlambat sih jika dia tidak
mandi dan sarapan. Namun itu tidak mungkin kan dilakukannya, dia tidak bakal
mau membuat teman ceweknya ilfeel.
Dengan mulut yang masih cemot ia memacu kendaraannya ke gudang illmu. Terlihat jarum yang
menujukan angka 80 dan suara desiran motor yang sudah tidak enak dengar.
“gubraakkkkk” detuman besar berbunyi di seberang jalan. Terlihat mobil yang
sudah melintang di tengah jalan dan darah yang berceceran. Iya dia si pemuda
yang kesiangan itu,motornya hancur dan kepalanya bocor. Sungguh malang
nasibnya, bukan ilmu yang didapat melainkan 100 jahitan dan perban di sekujur
tubuhnya.
“Ini mas buburnya saya simpan di atas meja”, latunan
lembut dari sang perawat.
Tidak terasa sudah seminggu dia di sini sudah banyak
perkembangan yang di dapat kepala nya sudah membaik dan luka-lukanya sudah
mengering, dan hari ini merupakan hari terakhir ia di rumah sakit.
“Assalamualaikum”, suara di balik pintu yang tidak asing
lagi terdengar olehnya. Ya itu ibunya yang datang menjemputnya pagi ini.
“waalaikumsalam, ehh ibu ada apa? Pasti mau menjemputku yaa?” tanya Rian
berhias senyum di wajahnya. “iya nak, inikan sudah hari terakhirmu” jawab sang
ibu sambil mengemasi barang-barang Rian. Sambil menghabiskan makanan dari
perawat tadi ia bertanya tentang bimbel yang ia buat di rumah, “ibu bagaimana
dengan anak didikku di rumah”. Jawab ibu, “mereka merindukanmu nak, mereka juga
sudah akrab dengan teman yang kamu suruh menggantikan kamu mengajar sementara”
Makanan pun habis, Rian dan ibunya pun pulang kerumah. Di
rumah sudah menunggu adik-adiknya dan teman Rian, Sera namanya ia adalah teman
kuliah Rian mereka sudah akrab sejak di bangku SMA dan ketemu lagi di bangku
kuliah ini. Mereka berada dalam satu jurusan yaitu FKIP ya mereka berdua memang
bercita-cita menjadi guru di masa yang akan datang.
***
Setelah tabrakan 7 tahun silam, kini Rian merasakan efek
dari tabrakan itu, kepalanya sering sakit dan ia mudah pingsan. Ternyata ada
tumor di kepalanya, akibat dari penggumpalan darah waktu ia tabrakan dulu.
Tidak ada kesempatan lagi buat Rian untuk sembuh, tumor itu sudah menggrogoti
kepalanya. Dan benar setelah seminggu mempersunting gadis pujaan nya di pelaminan
ia meninggal dunia, meninggalkan istri barunya dan menyusul kedua orang tuanya
di surga.
****
Setelah tabrakan waktu itu dia belum sembuh total, namun
ia belum merasakan sakit dikepalanya. Rian pun melanjutkan usahanya yaitu
bimbel yang ia rintis di rumah.
Sudah seminggu ia mengajar, mulai muncul sebuah
pertanyaan. “kak Rian, kak Sera kok tidak mengajar lagi?” tanya bocah lugu di
depannya. “ohh kak Sera itu hanya mengajar sementara menggantikan kakak” jawab
Rian. “Mengapa tidak di ajak lagi kak? Kan kak Sera bisa membantu kakak”
celetuk bocah lugu tadi. Sejenak Rian terpikirkan mengenai hal itu, “benar juga
perkataan adik ini, Sera dapat membantuku, sehingga aku tidak kesibukan seperti
sekarang ini” kata hati Rian.
“Assalamualaikum, hai Sera lagi sibuk gak? Ini aku Rian
aku ingin menanyakan apakah besok bisa ketemuan nggak” tanya Rian via telpon.
“ohh bisa, kita ketemu di tempat biasa saja yaa” jawab Sera yang menyetujui
ajakan Rian.
Esok harinya, bertemu lah mereka di cafetaria seberang
jalan. Rian memulai pembicaraan yang bertujuan mengajak Sera membantunya
mengajar di bimbel. Sempat terjadi beberapa pertimbangan bagi Sera mulai dari
jadwal kuliah nya dan kerjaan setiap hari nya. Namun bujuk rayu dari Rian
berhasil membuat hati Sera luluh, namun dia tidak pernah berhasil membuat
perasaan Sera luluh kepadanya ia selalu takut untuk mengungkapkan perasaan nya
kepada Sera. Iya dulu ia mempunyai perasaan kepada sera saat SMA namun sayang
Rian tidak berani untuk mengungkapkan kepadanya. Kini perasaan yang sudah ia
kubur dalam-dalam muncul kembali ke permukaan. Tetapi ia masih bersabar, ia
tidak mau usahanya gagal hanya karna cinta.
Hari demi hari berlalu sampai ia merasa rumahnya sudah
tidak cukup menampung puluhan anak didiknya. Ya bimbel nya sudah mulai menampakkan taji nya, banyak orang tua siswa
siswi yang menitipkan anak mereka di bimbel
rumahan Rian ini. Dengan sedikit modal ia memberanikan diri untuk menyewa
sebuah ruko di tepi jalan depan kompleknya, disini ia menyulap sebuah rumah
toko menjadi sebuah tempat les. Dan di beri nama BIMBEL ASMARA, pemberian nama
ini tak lain karena ia mendapatkan seorang pujaan hatinya yang bernama Mei dia adalah seorang gadis teman Sera. Mei
adalah guru pengganti Sera di karenakan Sera harus pergi ke Jakarta untuk menyelesaikan
kuliahnya.
“telah terjadi kecelakaan pesawat garuda dengan nomor
penerbangan 372, pesawat tersebut jatuh di selat malaka dalam perjalanan menuju
pontianak. Dikabarkan semua penumpang tewas akibat ledakan sebelum pesawat
jatuh...” ulas sang anchor di sebuah
stasiun televisi. Dan seketika gelas yang Rian pegang pecah, dia tersadar bahwa
pesawat yang jatuh itu merupakan pesawat yang ditumpangi orang tuanya. Air
matanya menetes, melihat berita di televisi itu. Kini ia yatim piatu, orang
tuanya tidak sempat melihat ia sukses dan menimang cucu dari gadis yang sudah
ia tunangi.
“Yaasiin Wal Qur’aanil hakiim Innaka laminal musrsaliin
........” surah yasin yang dilantunkan pelayat mengiringi kepergian orang
tuanya ke alam ghaib . kata-kata
motivasi bermunculan dari sekian orang tak terkecuali Mei, sebagai penyemangat
Rian menjalani hidupnya.
5 bulan berlalu, sempat terbengkalai bimbel nya selama sebulan
setelah kepergian orang tuanya. kini perasaan sedih ditinggal orang tuanya
mulai terkikis oleh kesibukan Rian yang akan mengadakan akad nikah minggu depan,
bimbel yang di binanya sejak ia
kuliah sekarang sudah menjadi bimbel terbesar
di Pontianak. Omset perbulannya mencapai 10 juta, di tambah gaji yang ia
peroleh sebagai arsitek dan dosen di
universitas di kotanya membuat ia menjadi pemuda sukses di masa kuliah. Dengan
modal itulah ia bisa menggelar pesta mewah, sungguh beruntung gadis yang di
pinangnya itu.
Namun sayang kini dia sering pusing, dan pingsan. Sudah
di cek kedokter dan diketahuilah ia menderita tumor otak, ini di sebabkan
kecelakaan 7 tahun silam. Tepat seminggu setelah mengucap janji suci ia
meninggal dunia, dengan menyisakan istri barunya.
