Siapa sih yang ngga tahu warung kopi, usaha ini telah menjamur di
berbagai daerah di indonesia. mulai dari yang modern sampai yang biasa-biasa
saja. Khususnya di pontianak ini warung kopi bukan hal yang tabu. Nah kali ini
saya punya cerita tentang warung kopi. cekidott... :D
Siang ini panas sekali, ibu memintaku untuk mengantar ke pasar.
sebenarnya aku malas namun karena diimingi bakal di belikan printer yah aku mau
tak mau. Aku pun menghidupkan motor "breem breemm", suara motorku
berbunyi. Tak lama setelah itu aku pun pergi
*sampai di pasar*
Karena hari ini tidak panas aku memutuskan untuk tidak ikut
menemani ibu belanja. Bukan hanya panas, tapi karena seperti biasa ibu kalau
sudah belanja pasti lama, oleh karena itu aku mencari warung kopi. Namun aku sempat
kesusahan mencari warung kopi hampir 15 menit aku berkeliling. Dan.... yessss.,
akhirnya aku menemukan warung kopi itu dan di sana juga ada yang jual sate
lengkap sekali dengan perutku yang sudah berdendang ini. Waah ini adalah
pengalaman pertamaku di warung kopi sendirian yang sebenarnya notebene di sini
adalah tempat para orang tua(biasanya sih bapak-bapak gitu). tak lama sate yang
aku pesan datang, didahului teh es yang aku pesan sebelumnya. sendok demi aku
makan sambil mengamati apa saja yang dilakukan orang-orang disini. di sini riuh
sekali, seakan-akan berada di sebuah pasar tradisional. sampai-sampai aku tidak
mengerti apa yang mereka omongkan. tak lama sateku pun habis. "wahh ga
terasa sudah habis sate ini" namun ibuku belum terlihat. aku tetap
menunggu di sini, namun aku bisa merasa mati jika lama-lama di sini. karena
apa? yaa karena banyak cerobong asap disini, atau kalau kalian kurang tau
banyak perokok di sini, mereka merokok tiada hentinya layaknya sebuah mesin
yang selalu mengerluarkan asap. aku heran apa mereka tidak takut akan bahaya
yang dapat mengancam hidup mereka. yaa walupun aku tahu, kematian itu ada di
tangan Allah SWT. tapi setidaknyakan mereka dapat mencegah itu. ah sudahlah,
kenapa aku harus memikirkan mereka. lanjut ke cerita ku lagi. pukul menujukkan
pukul 1 sudah 2 jam setengah aku disini, sampai bosan aku melihat lalu lalang
pelayan yang mengantarkan pesanan, hingar bingar suara pengamen yang menyelip
di antara suara bapak-bapak yang menggema di seluruh ruangan, dan ntah sudah
berapa pengemis yang keluar masuk, mereka silih berganti meminta belas kasihan pengunjung. Bermacam-macam pengemis yang aku temui dari anak kecil hingga orang tua lansia, dari yang mukanya memelas hingga ada yang sambil bercanda dengan pengunjung. sunggguh beraneka ragam manusia disini. begitu juga dengan pengunjung warung kopi ini, banyak rupa bentuknya. Dari yang menyeramkan hingga ada yang gelis-gelis juga, bahkan ada yang membawa bayinya ikut minum disini, aku merasa iba dengan bayi itu, karena aku liat ia menangis terus entah itu karena kepanasan atau kelaparan, dan yang paling kasihan bayi itu harus menghirup udara yang tidak baik di usianya. Selama aku disini, aku merasa warung ini tidak sepi-sepi selalu ada pengunjung yang datang, sungguh lelah rasa menunggu itu, dan akhirnya
aku memutuskan untuk menunggu diluar karena aku sudah tidak tahan dengan
asap-asap mematikan ini.
*menunggu diluar*
aku pun menuggu diluar, cukup lama aku menunggu diluar sini, hingga aku sempat untuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sini, pemandangan di luar sini tidak jauh dari penjual batu akik yang kini sedang musim-musimnya. namun sekitar satu jam an aku menunggu ibuku pun datang dan aku pun pulang, nah sekian lah ceritaku tentang warung kopi. namun sebelum itu aku ada mengabadikan beberapa foto.
nah ini adalah nama warung ini terletak di jl. tanjung pura
dan ini adalah pengemis yang aku ceritakan tadi


0 komentar:
Posting Komentar